
Mediatamanews | Jakarta – Komisaris Jenderal (KomJen) Anton Bachrul Alam merupakan seorang Purnawirawan Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Jenderal (Komjen), mengisahkan titik balik hidupnya setelah menunaikan Ibadah Haji.
Kisah tersebut ia bagikan dalam sebuah video TikTok dalam akun @saeedkamyabi pada Senin, 16 Juni 2025.
la pernah menduduki jabatan strategis, termasuk sebagai Inspektur Pengawas Umum (Irwasum) Polri, serta menjabat Kapolda Jawa Timur pada tahun 2009.
Namun di balik karier cemerlangnya, ada ketakutan yang mendalam untuk mendorongnya berhijrah.
Sebagai Purnawiran mantan Kapolda Jawa Timur kala itu, Anton Bachrul Alam dikenal dengan kebijakan yang kental dengan nuansa religius.
la mendorong Polwan untuk mengenakan hijab (jilbab) dan mengimbau kepada para polisi pria agar meluangkan waktu istirahatnya untuk mengkhatam Al-Qur’an.
Semua itu berangkat dari kesadaran akan kematian yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja dan dimana saja.
Anton Bachrul Alam mengaku pernah diliputi rasa takut disaat setelah meninggal dunia nanti, kami belum sempat menunaikan rukun Islam kelima yaitu menunaikan Ibadah Haji.
“Pada waktu itu, saya bekerja antara waktu mati dan haji, karena saya pasti akan dihisab, punya uang tapi belum berangkat haji,” ucap Anton Bachrul Alam berkisah.
Saat berangkat haji kami tidak sendirian akan tetapi ditemani bersama sang istri.
“Atas Ijin Allah SWT kami mendapati satu travel dan tinggal 2 seat, kami dengan istri berangkat menunaikan Ibadah Haji, Karena begitu takutnya kami akan meninggal sebelum menunaikan ibadah haji,” imbuhnya.
Meski secara keuangan kami mampu, keputusan berangkat haji itu dilakukan dalam kondisi minim persiapan.
la bahkan tidak sempat mengikuti manasik haji, Anton Bachrul Alam menuturkan, dirinya hanya bermodalkan tekad kuat agar bisa berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri.
Sesampainya di Mekkah, kebingungan sempat menyelimuti kami, namun disaat itu kami bertemu dengan KH Ashari, seorang ulama yang menuntunnya selama beribadah haji, dan menjadi pemandu kami ditanah Suci Mekkah.
“Lalu kami minta tolong untuk dibimbing, apa yang disampaikan dan yang disuruh, kami mengikuti saja,” ujarnya mengenang.
“Titik Balik Perubahan Hidup”
Meski menilai hajinya belum sempurna karena lebih didasari rasa takut mati dari pada kesiapan doa, pengalaman itu justru membawa perubahan besar.
“Tapi Alhamdulillah. Pulang berhaji, sikap kami langsung banyak perubahan, yang tadinya tidak pernah sholat di masjid, terus pengen berjemaah di masjid, yang tadinya jarang sholat malam, bisa bangun malam terus ingin sholat malam,” katanya.
Selain itu, ia juga memiliki keinginan untuk bersedekah hingga membaca Al-Qur’an setiap harinya.
“Yang tadinya jarang sedekah, pengen sedekah setiap hari, yang tadinya jarang baca Al Quran, pengen baca Al Quran terus. Itulah yang saya rasakan sampai saat ini,” tutupnya.
(Kisah)