KP2MI Pastikan Pekerja Migran Indonesia Belum Terdampak Konflik Timur Tengah, 105 Penerbangan dari Soetta Dibatalkan
Mediatamanews|Tangerang – Pemerintah melalui Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memastikan hingga saat ini belum ada laporan pekerja migran Indonesia (PMI) yang terdampak konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, pemerintah telah membuka layanan posko krisis (crisis center) dan hotline pengaduan sebagai langkah antisipasi.
Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Christina Aryani, mengatakan Direktorat Jenderal Perlindungan telah melakukan koordinasi intensif dengan perwakilan Indonesia di sejumlah negara Timur Tengah guna memantau kondisi terkini para pekerja migran.
“Di Direktorat Jenderal Perlindungan sudah melakukan rapat-rapat intensif dengan perwakilan kita di beberapa negara Timur Tengah yang kira-kira terdampak. Kami juga sudah membuka hotline dan mendirikan crisis center untuk mitigasi serta menampung aduan apabila ada laporan dari pekerja migran,” kata Christina.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada laporan dari pekerja migran Indonesia yang terdampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Sejauh ini belum ada aduan yang masuk. Dari laporan yang kami terima juga belum ada. Kemarin saya sempat berbicara dengan Duta Besar kita di Qatar, dan sejauh ini masyarakat Indonesia di sana belum terdampak,” ujarnya.
Meski situasi masih relatif aman bagi PMI, pemerintah tetap menyiapkan langkah-langkah mitigasi jika situasi memburuk, termasuk kemungkinan evakuasi.

“Bukan berarti harapan kita akan selalu seperti ini, tetapi yang penting pemerintah siap. Jika nanti ada situasi darurat dan perlu evakuasi, itu sudah dipikirkan. Indonesia juga sudah beberapa kali melakukan evakuasi warga negara saat terjadi konflik,” jelasnya.
Sementara itu, dampak konflik di kawasan Timur Tengah juga berimbas pada operasional penerbangan internasional dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Sejumlah penerbangan menuju negara-negara Timur Tengah masih mengalami pembatalan akibat penutupan ruang udara di wilayah tersebut.
Salah satu calon penumpang tujuan Abu Dhabi, Zamhur, mengaku terpaksa menunda keberangkatannya setelah penerbangan yang akan ditumpanginya dibatalkan oleh maskapai.
“Saya rencana mau ke Abu Dhabi, tapi katanya penerbangannya di-cancel. Maskapainya Etihad, nomor penerbangan EY475. Katanya suruh menunggu informasi lagi di rumah,” kata Zamhur.
Ia menambahkan, setelah mendapat kabar pembatalan penerbangan, dirinya memilih kembali ke kampung halaman di Tegal sambil menunggu informasi terbaru dari maskapai.
Berdasarkan data pengelola bandara InJourney Airports, hingga 5 Maret 2026 terdapat 21 penerbangan rute Timur Tengah yang dibatalkan di Bandara Soekarno-Hatta.
Secara kumulatif, sejak pecahnya konflik pada 28 Februari hingga 5 Maret 2026, tercatat 105 penerbangan rute Timur Tengah dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta mengalami pembatalan.
Pihak pengelola bandara menyatakan terus melakukan pemantauan secara intensif serta berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait guna memastikan pelayanan terhadap penumpang tetap berjalan dengan baik di tengah dampak konflik tersebut.
Info Redaksi
- Editor Naskah : Ian Rasya
- Uploader : Hasnoe