Berita UtamaNasionalPeristiwa

Mahasiswa Poros Tangerang Gelar Aksi, Desak Penghentian Program MBG dan Tolak Proyek Geotermal

Mediatamanews|Tangerang (Banten) – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Poros Tangerang menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Cikokol, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Tangerang, Kamis (18/6/2026) petang. Aksi tersebut sempat diwarnai ketegangan antara massa dan aparat kepolisian setelah demonstran melakukan aksi pembakaran ban di lokasi.

Dalam demonstrasi itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, di antaranya penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penolakan proyek geotermal yang dinilai berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, serta kritik terhadap keterlibatan aparat keamanan dalam ruang sipil.

Koordinator aksi, Topan Bagaskara, mengatakan program MBG menjadi salah satu fokus kritik mahasiswa karena dinilai membebani anggaran negara dan berdampak pada sektor lain yang dianggap lebih prioritas.

“Kami menilai tata kelola program MBG tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat. Di sisi lain, banyak anggaran yang terpotong, termasuk untuk pendidikan dan kesehatan,” ujar Topan.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berdampak pada pemerintah daerah, terutama dalam pengelolaan anggaran pendidikan. Ia mengaku menerima informasi mengenai masih rendahnya kesejahteraan guru honorer di sejumlah daerah.

“Ada guru honorer yang menerima penghasilan sangat rendah, bahkan ada yang terancam kehilangan pekerjaan karena keterbatasan anggaran. Itu menjadi salah satu alasan kami meminta program MBG dievaluasi bahkan dihentikan,” katanya.

Dok.istimewa

Selain menyoroti persoalan anggaran, massa aksi juga menyampaikan penolakan terhadap proyek geotermal yang dinilai berpotensi merusak kawasan hutan dan lingkungan hidup. Mereka meminta pemerintah lebih mengutamakan upaya pelestarian alam dibandingkan eksploitasi sumber daya yang berisiko menimbulkan dampak ekologis.

Dalam orasinya, Topan turut mengkritik keterlibatan aparat keamanan dalam berbagai aktivitas yang menurutnya berada di ranah sipil. Ia menilai kondisi tersebut dapat mengurangi ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi masyarakat.

“Kami melihat supremasi sipil semakin melemah. Kehadiran aparat dalam jumlah besar saat aksi seperti ini juga menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya,” ujarnya.

Topan juga menyampaikan kritik kepada sejumlah kelompok mahasiswa yang dinilainya mulai kehilangan independensi dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Menurutnya, mahasiswa harus tetap menjaga posisi sebagai kontrol sosial dan tidak terlalu dekat dengan kekuasaan.

“Mahasiswa harus menjaga prinsip-prinsip pergerakan. Ketika terlalu dekat dengan kekuasaan, fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah bisa melemah,” katanya.

Poros Tangerang menyatakan akan terus melakukan kajian, diskusi, dan konsolidasi guna mengawal berbagai isu yang mereka perjuangkan. Mereka juga membuka peluang untuk bergabung dalam gerakan yang lebih luas di tingkat nasional.

Aksi unjuk rasa berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian. Meski sempat terjadi adu argumentasi saat massa membakar ban, situasi berhasil dikendalikan dan demonstrasi berakhir dalam keadaan tertib.

Info Redaksi

  • Editor Naskah : Ian Rasya
  • Uploader : Hasnoe