Teh Talua Mak Datuak, Cita Rasa Ranah Minang yang Jadi Primadona di FKS 2026

Mediatamanews|Tangerang (Banten) – Aroma teh hangat berpadu dengan kuning telur bebek dan beragam topping menjadi daya tarik tersendiri di Festival Kuliner Serpong (FKS) ke-14. Di tengah beragam kuliner khas Nusantara yang hadir dalam festival tersebut, Teh Talua Mak Datuak menawarkan pengalaman menikmati minuman tradisional Ranah Minang dengan sentuhan kekinian.
Bagi masyarakat Sumatera Barat, teh talua bukan sekadar minuman. Racikan berbahan dasar kuning telur bebek, teh, dan susu itu telah dikenal secara turun-temurun serta lekat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Di FKS 2026, Teh Talua Mak Datuak membawa cita rasa tradisional tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat di luar Sumatera Barat.
Saiful, utusan Teh Talua Mak Datuak dari Padang, mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan inovasi dalam penyajian tanpa menghilangkan karakter utama teh talua sebagai minuman tradisional Ranah Minang.
“Cita rasa legenda, kini hadir lebih istimewa,” menjadi slogan yang diusung Teh Talua Mak Datuak.
Salah satu pembeda Teh Talua Mak Datuak adalah banyaknya pilihan varian. Jika teh talua tradisional umumnya disajikan dalam bentuk original, Teh Talua Mak Datuak mengembangkan sekitar 20 varian, termasuk pisang madu yang menjadi salah satu menu favorit pelanggan.
Proses pembuatannya tetap mempertahankan karakter khas teh talua. Kuning telur bebek dipisahkan dari putih telur, kemudian dikocok hingga menghasilkan tekstur yang kental. Setelah itu, campuran telur diberi teh panas serta bahan tambahan sesuai varian yang dipilih.
Pada varian pisang madu, misalnya, telur yang telah dikocok dipadukan dengan pisang dan madu sebelum disiram teh panas. Minuman kemudian diberi topping sehingga tampilannya semakin menarik.
“Best seller kami pisang madu. Kami mencampurkan madu dan pisang ke dalam telur yang sudah dikocok sampai kental, kemudian disiram teh panas,” ujar Saiful.
Terjual Lebih dari 700 Gelas Sehari
Inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari pengunjung FKS. Saiful menyebut penjualan Teh Talua Mak Datuak selama mengikuti festival rata-rata mencapai lebih dari 700 gelas per hari.
Menurutnya, tingginya penjualan menunjukkan teh talua kini semakin mudah diterima oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Pengunjung yang menikmati teh talua pun berasal dari beragam kelompok usia. Inovasi dalam penyajian dan banyaknya pilihan rasa membuat minuman tradisional tersebut tampil lebih modern tanpa kehilangan identitas aslinya.
Selama FKS 2026, Teh Talua Mak Datuak dibanderol mulai Rp23 ribu hingga Rp45 ribu, tergantung varian yang dipilih.
Untuk varian original, bahan utamanya terdiri atas telur, teh, dan susu, dengan tambahan topping Milo.

Dari Padang Membawa Cita Rasa Ranah Minang
Teh Talua Mak Datuak saat ini memiliki empat outlet, tiga di antaranya berada di Padang dan satu lainnya berada di wilayah perbatasan Sumatera Barat dengan Jambi.
Di Kota Padang, salah satu gerainya berada di Jalan Hang Tuah Nomor 176, kawasan Taplau. Sementara konsep kafe tersedia di Jalan Thamrin Nomor 5, kawasan Alang Laweh.
Kehadiran Teh Talua Mak Datuak di Tangerang Selatan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan minuman khas tersebut kepada masyarakat yang belum familiar dengan teh talua.
Saiful mengatakan pihaknya mendapat undangan dari Summarecon Mall untuk berpartisipasi dalam FKS. Kesempatan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan kuliner khas Ranah Minang kepada masyarakat.
Tak hanya memperluas pasar, Teh Talua Mak Datuak juga mulai membuka peluang pengembangan usaha melalui sistem waralaba.
“Kami berharap bisa berkembang di setiap daerah di Indonesia sehingga minuman Ranah Minang ini semakin dikenal,” kata Saiful.
Menurutnya, teh talua memiliki cerita yang tidak kalah menarik dibandingkan kuliner khas Sumatera Barat lainnya.
“Jika rendang menjadi salah satu ikon kuliner Padang, maka secangkir teh talua adalah teman minumnya yang tak kalah punya cerita,” ujarnya.
Satu Festival, Seribu Cita Rasa
Kehadiran Teh Talua Mak Datuak menjadi bagian dari semangat FKS ke-14 yang mengangkat tema “Satu Jalur, Seribu Rasa”.
Panitia penyelenggara FKS, Alese Sandria, mengatakan festival tahun ini berfokus pada kekayaan kuliner autentik dari kawasan Lintas Sumatra, termasuk Lampung, Palembang, Aceh, dan berbagai daerah lainnya.
Sebanyak 90 tenant berpartisipasi dalam FKS 2026. Dari jumlah tersebut, 57 tenant atau sekitar 65 persen didatangkan langsung dari wilayah Lintas Sumatra.
Menurut Alese, konsep tersebut dibuat agar masyarakat dapat mencicipi kuliner autentik dari berbagai daerah tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke daerah asalnya.
“Indonesia punya kekayaan kuliner Nusantara dan cita rasa rempah yang luar biasa. Kami ingin masyarakat yang belum sempat datang ke daerah asalnya tetap bisa merasakan kuliner autentik itu di FKS,” ujarnya.
Festival Kuliner Serpong ke-14 berlangsung selama 30 hari, mulai 13 Agustus hingga 13 September 2026.
Tak hanya menyuguhkan makanan dan minuman, FKS juga menghadirkan dekorasi bernuansa Sumatra serta sejumlah pertunjukan musik. Sejumlah musisi nasional dijadwalkan tampil, di antaranya Yovie & Nuno, Geisha, Barasuara, dan Nadin Amizah.
Di tengah hiruk-pikuk festival dan beragam kuliner yang tersaji, secangkir teh talua menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenal Sumatera Barat. Bukan hanya melalui rasa, tetapi juga melalui cerita panjang sebuah tradisi yang terus beradaptasi dengan zaman.
Info Redaksi
- Editor Naskah : Ian Rasya
- Uploader : Hasnoe